Supplier Case HP - HANDAL Jakarta

spektrum-terbatas,-tantangan-operator-gelar-jaringan-5g

Spektrum Terbatas, Tantangan Operator Gelar Jaringan 5G

Spektrum Terbatas, Tantangan Operator Gelar Jaringan 5G

Penulis

Redaksi

Selular.ID – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengakui ketersediaan spektrum frekuensi radio penting untuk mengembangkan jaringan 5G di Indonesia.

Saat ini, Indonesia masih mengalami keterbatasan spektrum frekuensi radio (SFR) di semua level.

Oleh karena itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika terus melakukan penambahan (farming) dan penataan ulang (refarming) guna memenuhi kebutuhan fixed broadband maupun mobile broadband.

Adis Alifiawan, Ketua Tim Penataan Alokasi Spektrum Frekuensi Radio Dinas Tetap dan Bergerak Kominfo menjelaskan bahwa Indonesia setidaknya membutuhkan spektrum frekuensi di tiga lapisan, yaitu pita 700 MHz pada lapisan bawah (low band); 2,3 GHZ dan 2,6 GHZ pada lapisan tengah (middle band); dan 3,5 GHz pada lapisan atas (high band).

Dia menuturkan, menjelaskan spektrum frekuensi radio di Indonesia sedang digunakan oleh berbagai peruntukan pemanfaatan.

Pada pita frekuensi 700 MHz masih berlangsung migrasi siaran televisi dari analog ke digital atau analog switch off.

Dua spektrum potensial untuk 5G lainnya, yakni 2,3GHz pada middle band dan 3,5GHz pada high band, sudah lama digunakan untuk satelit komunikasi dan penyiaran.

“Dukungan pemerintah dalam pengembangan jaringan 5G, pemerintah membuka spectrum sharing sampai tiga layer paling optimal di sisi spektrum. Dari sisi regulasi, pemerintah fleksibel karena kita paham eranya sudah competition dan collaborative,” ujar Adis saat mengisi sesi diskusi panel The 19th Selular Awards 2022 ‘Winning in Digital Ecosystem’, di Merlynn Park Hotel Jakarta, Jumat (29/7/2022).

Di sisi lain, M. Danny Buldansyah, Director & Chief Regulatory Officer Indosat Ooredoo Hutchison menekankan bahwa upaya menghadirkan layanan 5G di Indonesia tidak berhenti pada farming dan refarming spektrum frekuensi. Setelah memiliki alokasi spektrum frekuensi, pemerintah disebutnya perlu menetapkan harga yang rasional agar tidak memberatkan operator seluler.

“Spektrum frekuensi kurang jadi perlu dilelang. Tapi kalau dilelang, tidak mahal. Hal ini untuk kemaslahatan masyarakat,” ujar Danny.

Untuk diketahui, pemerintah diharap melelang frekuensi baru untuk jaringan 5G. Frekuensi tersebut bisa berasal dari hasil analog switch off (ASO) pada pita frekuensi 700 MHz dan milimeter-wave band yang berada di pita frekuensi 26 GHz.

Bicara implementasi 5G bukan hanya fokus di network, namun juga ada device dan application. Kehadiran gawai yang mampu mengakses jaringan 5G diperkirakan akan makin terjangkau oleh masyarakat. Sementara aplikasi yang harus dibangun oleh operator seluler dan industri secara keseluruhan diutamakan mengembangkan aplikasi lokal.

Danny menyebut, membangun ekosistem merupakan hal yang tak kalah penting mengingat jumlah pengguna teknologi internet di Indonesia terus bertambah. Model bisnis juga penting untuk dipertimbangkan agar operator bisa menghasilkan uang dari layanan 5G.

“Hampir semua platform bertanya-tanya apa sih use case yang tepat untuk 5G di Indonesia. Ada yang bilang untuk smart manufacturing, subsriptions broadband, untuk transformation, dan seterusnya yang penetrasinya masih rendah. Nah ini tantangan bagi kita,” tandasnya.

Bila ekosistem sudah matang, Danny meyakini, investasi dari sisi infrastruktur juga bakal meningkat.

Scroll to top

search engine optimized by. Jasa SEO LinkSEO